Rabu, 08 Oktober 2014

Pembagian Kelompok Fenomenologi Agama PA-A



DAFTAR KELOMPOK dan TEMA


KELOMPOK I – Mite

  1. Ahmad Rukhi
  2. Setiono
  3. Arif Muhammad Hasyim
  4. Muhammad Khairuddin
  5. Siska Dian Purwanti
  6. Deni Surya Septiyaji
  7. Nu'aim Abror Al-Khalidi
KELOMPOK II – Doktrin, Dogma, Kredo
  1. Ach. Nur Faishal
  2. Miftakhurrohman
  3. Ani Mufidah
  4. Siti Rahma
  5. Kun Cahyo Gumilar
  6. Arif Setiawan
 KELOMPOK III – Ritus dan Kultus
  1.  Fahmi Abdillah
  2. Saifa Ebidillah
  3. Johan Saputra
  4. Musanif
  5. Amirul Auzar Ch.
  6. Abd. Walid
KELOMPOK IV – Kitab Suci
  1. Afronji
  2. Erika Nurhidayah
  3. Hendra Kusuma
  4. Fajri Husein
  5. Zakiyatul Fadlah
  6. Aba Charis
 KELOMPOK V – Doa dan Sembahyang
  1. Ahmad Hanafi Siregar
  2. Ahmad Syaifuddin
  3. Ngarjito Ardi Setiyanto
  4. Nur Khanifah Rahmawati
  5. Ahmad Mahbub Ikhwani
  6. Aulia Hafiz Attamimi Hasibuan

KELOMPOK VI – Korban dan Upacara Kegamaan
  1. Alfi Uswatun Ch.
  2. Wikan Rias Pamuji
  3. Muhammad Fauzi
  4. Nurhadi Biantoro
  5. M. Nur Subhan
  6. Ari Astuti

RINCIAN TUGAS:


1. Seluruh kelompok bekerja membuat makalah ilmiah dengan mengikuti ketentuan  
    penulisan ilmiah yang baku

2. Sumber referensi yang jelas (buku, jurnal, ensiklopedi, dll.) dengan mengikuti pola  
    pengutipan yang standar ilmiah (buku pedoman penulisan ilmiah FUSPI)

3. Sumber website dapat digunakan dengan menunjukkan alamat web, hari &  
    tanggal diakses, pukul ketika mengakses.

4. Tidak diperkenankan copy—paste dari halaman website dan blog.

5. Buku rujukan sebagaimana tercantum pada SAP dan bisa dikembangkan dengan 
     rujukan dari sumber lainnya.

6. Jumlah halaman tulisan: 7-10 halaman kuarto, spasi 1,5, 
    Times New Roman 12 poin, margin atas 4 cm, kiri 4 cm, kanan 3 cm, bawah 3 cm.

7. Dikumpulkan pada pertemuan pertama setelah Ujian Tengah Semester secara  
    serentak seluruh kelompok.

8. Makalah yang bukan karya sendiri (plagiat) akan didiskualifikasi dan seluruh 
    anggota kelompok dinyatakan GUGUR dalam mata kuliah ini.




Selasa, 07 Oktober 2014

Tugas PPI SQH-B



PENDEKATAN DALAM PENGKAJIAN (STUDI) ISLAM
Prodi Agama dan Filsafat
Strata 2 Pascasarjana, UIN Sunan Kalijaga
Yogyakarta

 Pembagian Tugas:

Kelompok
Topik Perkuliahan/Anggota
Referensi
1
Kajian Islam dari Perspektif Sejarah
       1.     HANIEF MONADY, S.Th.I
       2.     Muhammad Aswar, S.Th.I.
       3.     SAIFUDDIN, S.Ud.

Akbar S. Ahmed, Discovering Islam: Making Sense of Muslim History and Society (London: Routledge, 2002).
Fazlur Rahman, Islamic Methodology in History (Islamabad: Islamic Research Institute, 1995).
Annemarie Schimmel, Calligraphy and Islamic Culture (London: I.B Tauris & Co., Ltd., 1990).
2
Kajian Islam dari Perspektif Filsafat
      1.     ABD. MALIK ALMUNIR, S.Ud.
      2.     UMI NURIYATUR ROHMAH, S.Th.I.
      3.     Fannah

Madjid Fakhry, A History of islamic Philosophy (New York: Columbia University Press, 2004)
Seyyed Hossein Nars, Islamic Philosophy from its Origin to the Present (New York: SUNY Press, 2006).
Joseph Kenny, Philosophy of the Muslim World: Authors and Principle Themes (Washington D.C.: The Council for Research in Values and Philosophy, 2003)
Hans Daiber, Bibliography of Islamic Philosophy (Leiden: E.J. Brill, 2007).
3
Kajian Islam dari Perspektif Sosiologi
      1.     BAHRUDIN ZAMAWI, S.Th.I.
      2.     HABSATUN NABAWIYAH, S.Th.I.
      3.     Iwan Parta, S.Th.I

William Lessa dan Evon Z. Vogt, Reader in Comparative Religion (N.Y.: Harper & Row Publishers, 1972).
Jacques Waardenburgh (ed.), Classical Approaches to the Study of Religion: Aims, Methods, and Theories of Research, vol. I: Introduction and Anthology (The Hague: Mouton & Co. N.V., 1973).
Frank Whaling, Contemporary Approach to the Study of Religion, Vol. I, (Melbourne: CUP, 1997), hlm. 89-178.
Bryan S. Turner, Max Weber Classic Monographs: Weber and Islam (London & N.Y.: Routledge, 1998)
Laleh Bakhtiar (ed.), Ali Shariati, An Approach to Understanding Islam (Chicago, IL.: ABJAD Book, 2011)
4
Kajian Islam dari Perspektif Antropologi
      1.     M.FAIDUL AKBAR, S.S.
      2.     NAFISATUZ ZAHRO', S.Th.I.
      3.     BAIHAKI, S.Th.I.


Fiona Bowie, The Anthropology of Religion (Massachusetts: Blackwell Publishers, 2000)
Michael Lambek, A Reader in the Anthropology of Religion (Massachusetts: Blackwell Publishers, 2002).
Clifford Geertz, Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa (Jakarta: Pustaka Jaya, 1981).
William Lessa dan Evon Z. Vogt, Reader in Comparative Religion (N.Y.: Harper & Row Publishers, 1972).
Jacques Waardenburgh (ed.), Classical Approaches to the Study of Religion: Aims, Methods, and Theories of Research, vol. I: Introduction and Anthology (The Hague: Mouton & Co. N.V., 1973).
Frank Whaling, Contemporary Approach to the Study of Religion, Vol. I, (Melbourne: CUP, 1997), hlm. 179-230.
Talal Asad, Anthropology & the Colonial Encounter (London: Ithaca Press, 1975)
Talal Asad, On Suicide Bombing (New York: Columbia University Press, 2007).
5
Kajian Islam dari Perspektif Psikologi
      1.     Said Mujahid, S.Th.I.
      2.     HELMI NAILUFAR, S.Th.I
      3.     SRI IN WAHYU SEJATI


David Wulf, Psychology of Religion: Classic and Contemporary (New York: John Wiley & Sons. Inc., 1997).
William Lessa & Evon Z. Vogt, Reader in Comparative Religion (N.Y.: Harper & Row Publishers, 1972).
Jacques Waardenburgh (ed.), Classical Approaches to the Study of Religion: Aims, Methods, and Theories of Research, vol. I: Introduction and Anthology (The Hague: Mouton & Co. N.V., 1973).
Frank Whaling, Contemporary Approach to the Study of Religion, Vol. I, (Melbourne: CUP, 1997), hlm. 21-88.
6
Kajian Islam Kontemporer:
      a.       Isu Hukum Islam (shari’ah)
      b.      Minoritas
      c.      Demografi Muslim Kontemporer,
      d.      Gender
      e.      Gerakan Islam Kontemporer
      f.       Islam Politik
      g.      dll.

Yang Bertugas:
      1.     ADRIKA FITHROTUL AINI, S.Th.I.
      2.     NILDA HAYATI, S.Th.I.
      3.     MOHAMMED KHALID ALI A


Ibrahim Abu Rabi’ (ed.), The Backwell Companion to Islamic Thought (Oxford: Blackwell Publishing, 2006)
John L. Esposito & John O. Voll, Makers of Contemporary Islam (Oxford: Oxford University Press, 2001)
John L. Esposito, The Future of Islam (Oxford: Oxford University Press, 2010)
John L. Esposito, John O. Voll, Osman Bakar (eds.), Asian Islam in the 21st Century (Oxford: Oxford University Press, 2008)
Tariq Ramadan, Western Muslim and the Future of Islam (Oxford: Oxford University Press, 2001)
Stephen May, Tariq Madood, Judith Squires (eds.), Ethnicity, Nationalism, and Minority Rights (Cambridge: Cambridge University Press, 2004).
Omid Safi (ed.), Progressive Muslim on Justice, Gender, and Pluralism (Oxford: Oneworld Publication, 2008)
Jon Armajani, Modern Islamist Movements, History, Religion, and Politics (Oxford: Willey-Blackwell, 2012).
Bassam Tibi, The Challenge of Fundamentalism: Political Islam and the New World Disorder (California: University of California Press, 1998).
 


RINCIAN TUGAS:
  1. Mencari karya-karya (tesis, disertasi, tulisan di jurnal yang terstandar nasional atau internasional) yang membahas topik dengan pendekatan yang sesuai dengan kelompok masing-masing. 
  2. Menguraikan pendekatan yang digunakan oleh penulis, misalnya Sosiologi Agama; apa itu Sosiologi? bagaimana kerangka analisisnya? 
  3. Ditulis dengan baik sesuai aturan penulisan ilmiah di Pascasarjana.
  4. Dipresentasikan mulai tanggal 17 Oktober 2014.

Rabu, 01 Oktober 2014

Daftar Kelompok KLAB dan Rincian Tugas



DAFTAR KELOMPOK & TEMA


KELOMPOK I – Norma dan Nilai dalam Komunikasi


  1. Muhammad Dirham Mahmuda
  2. Ahmad Syaifuddin
  3. Hendra Kusuma
  4. Amirul Auzar Ch.
KELOMPOK II – Identitas Agama dalam Komunikasi
  1. Alfi Uswatun Ch.
  2. Moh Muafiqul Khalid
  3. Siti Rahma
  4. Zakiyatul Fadlah
 KELOMPOK III – Worldview dalam Komunikasi Lintas Budaya
  1.  M. Nur Romadloni
  2. Wikan Rias Pamuji
  3. Musanif
  4. Ari Astuti
KELOMPOK IV – Bahasa dan Simbol dalam KLAB
  1. Setiono
  2. Alfin Thoriqul Fikri
  3. Eka Lailatul Khasanah
  4.  Deni Surya Septiyaji
 KELOMPOK V – Agama dan Komunikasi Cyber
  1. Ahmad Samsuddin
  2. Ani Mufidah
  3.  Nurhadi Biantoro
  4. Aba Charis

KELOMPOK VI – KLAB dan Dialog Antar Agama
  1. Miftahurrohman
  2. Johan Saputra
  3. Siska Dian Purwanti
  4. Supri Yanto Munte

RINCIAN TUGAS:


1. Seluruh kelompok bekerja membuat makalah ilmiah dengan mengikuti ketentuan  
    penulisan ilmiah yang baku

2. Sumber referensi yang jelas (buku, jurnal, ensiklopedi, dll.) dengan mengikuti pola  
    pengutipan yang standar ilmiah (buku pedoman penulisan ilmiah FUSPI)

3. Sumber website dapat digunakan dengan menunjukkan alamat web, hari &  
    tanggal diakses, pukul ketika mengakses.

4. Tidak diperkenankan copy—paste dari halaman website dan blog.

5. Buku rujukan sebagaimana tercantum pada SAP dan bisa dikembangkan dengan 
     rujukan dari sumber lainnya.

6. Jumlah halaman tulisan: 7-10 halaman kuarto, spasi 1,5, 
    Times New Roman 12 poin, margin atas 4 cm, kiri 4 cm, kanan 3 cm, bawah 3 cm.

7. Dikumpulkan pada pertemuan pertama setelah Ujian Tengah Semester secara  
    serentak seluruh kelompok.

8. Makalah yang bukan karya sendiri (plagiat) akan didiskualifikasi dan seluruh 
    anggota kelompok dinyatakan GUGUR dalam mata kuliah ini.




Minggu, 07 Agustus 2011

Kemajuan China & Posisi Indonesia


Kemajuan China Abad XXI dan Posisi Indonesia
Ustadi Hamsah

John Naisbitt dalam Megatrends 2000 mengatakan bahwa dalam dasawarsa ke depan akan terjadi pergeseran kekuatan politik dan ekonomi dunia. Pergeseran itu mengarah ke Pacific Rim (Tepi Pasifik). Apa yang diungkapkan oleh John Naisbitt tersebut menjadi kenyataan ketika pada awal millenium kedua negara-negara di kawasan tepi pasifik Asia telah menunjukkan geliat pertumbuhan ekonomi yang luar biasa. Negara-negara seperti Jepang, China, Korea Selatan, dan Singapura, misalnya telah mencapai prestasi ekonomi yang mencengangkan (Warta Ekonomi, 1991). Dari keempat negara tersebut, China-lah yang banyak menjadi “perbincangan” para pengamat politik dan ekonomi dunia dengan tingkat produk domestik bruto (GDP) pada triwulan kedua tahun 2010 mencapai US$ 1,337 triliun melampaui Jepang yang hanya US$ 1,288 triliun (Solopos.com, 16/8/2010). Dengan pertumbuhan ekonomi di atas 10%, China secara leluasa melaju dengan berkompetisi melawan negara-negara maju lainnya, seperti Jepang dan Amerika, bahkan dalam beberapa tahun ke depan China akan menjadi nomor satu di Asia bahkan di dunia (Kompas.com, 11/1/2010).

Dengan melihat pola pergeseran tersebut, kita tentu bertanya mengapa China mampu melakukan itu dalam waktu 30an tahun sejak Reformasi China tahun 1978? Dari perspektif ekonomi-politik, sejak naiknya Hu Jintao menggantikan Jiang Zemin pada tahun 1978, dikeluarkan kebijakan xiaokang, yakni konsep pembangunan yang didasarkan pada pertumbuhan ekonomi. Dengan model ini, China telah mencetak pertumbuhan yang sangat kompetitif. Adapun dari perspektif budaya, perkembangan ekonomi-politik China dibangun di atas struktur budaya yang dilandasi Confucian Ethics. Secara ringkas, etika Konghucu menekankan pada keselarasan dan kemandirian yang difikuskan pada fungsi ke(ke)luarga(an) (Weiming, 1996).

Implikasi dari sistem budaya ini mewujud dalam perilaku sosial dan ekonomi China yang mengacu pada tradisi “rumpun bambu”, di mana seluruh “anggota keluarga” merupakan penopang dan sumber kekuatan sebuah komunitas, baik politik maupun ekonomi. Filosofi rumpun bambu menjadikan rakyat China menjadi satu komunitas besar dalam membangun bersama. Bambu merupakan serumpun tanaman yang bersambung satu sama lain, dan yang besar selalu meninggalkan tunas-tunas yang banyak sebelum dia tua dan mati. Pengejawantahan filosofi rumpun bambu dalam dunia bisnis dan perdagangan menjadi dasar suskes China. Di manapun etnis China berada menjadi sebuah “rumpun” yang besar, dan mereka tetap menjunjung tinggi nilai etis ini, sehingga meskipun secara geopolitik berbeda, etika Konghucu mutual reciprocity (saling menolong dalam kekeluargaan China) menjadi pegangan utama (Janet Landa, 1999). Pandangan filosofis ini tumbuh subur dalam sistem pemerintahan komunis China, sehingga konsep xiaokang mengakar kuat dalam sistem dan struktur budaya China.

Confucianisme merupakan agama yang telah menjadi way of live bagi masyarakat China. Agama ini sarat nilai moralitas dan filosofi yang tinggi seperti mutual reciprocity, less-adversarial (tidak punya musuh), less-individualistic (tidak individualistis), fellow-villagers (kekeluargaan), keselarasan dan kemandirian sehingga menjadi fondasi dasar masyarakat China.

Secara teoritis, agama di abad ke-21 ini telah memainkan peran sentral. Agama menjadi daya dorong yang kuat dalam memajukan sistem berfikir dan perilaku manusia. Kalau merujuk pada teori Sosiologi Agama, Berger, misalnya telah menunjukkan bagaimana agama mempunyai andil yang fundamental dalam membentuk tindakan manusia (Berger, 1994). Kalau dikaitkan dengan persoalan Confucianism dan tradisi maju China, maka apa yang diungkapkan oleh Berger termanifestasi dalam seluruh tradisi China. Dengan demikian, etos kemajuan China, khususnya dalam bidang ekonomi-politik juga banyak diwarnai oleh Confucian Ethics. Maka tidak mengerankan jika etos ini telah menyebar di dalam masyarakat China yang berada di seluruh dunia yang menjadi “komunitas” besar di Tepi Pasifik yang disebut oleh Weiming dengan “Cultural China” (Weiming, 1995).

Meskipun kemajuan China dengan dasar Confucian Ethics tersebut bisa mengantarkan pada jajaran negara yang akan “mengendalikan” sejarah dunia, namun tetap memiliki kerapuhan. Gordon Chang dalam The Coming Collapse of China (2001), menyebutkan bahwa salah satu yang menjadi titik rapuhnya adalah faktor ideologi, di samping persoalan kesenjangan kaya-miskin, perburuhan, dan lain sebagainya. Ideologi komunisme yang dianut oleh China, meskipun bersinergi dengan komunalitas dan kekeluargaan dari Confucian Ethics, menjadikan negeri ini terjebak pada pertimbangan materialistik. Kita memahami bahwa seluruh imperium di dunia runtuh karena terjebak pada pertimbangan materialistik, misalnya Romawi (Gibbon, 1776).

Oleh karena itu, dengan melihat fenomena China tersebut, kita bangsa Indonesia yang juga berada di Tepi Pasifik juga mempunyai peluang untuk menjadi negara dengan kemajuan yang pesat. Terlebih lagi The Economist memasukkan Indonesia dalam kelompok negara CIVETS (Colombia, Indonesia, Vietnam, Egypt, Turkey, South Africa) sebagai negara yang akan mencetak kemajuan yang pesat, dan bukan suatu yang mustahil jika suatu saat Indonesia akan menjadi “pengendali” sejarah dunia.