Rabu, 01 Oktober 2014

Daftar Kelompok KLAB dan Rincian Tugas



DAFTAR KELOMPOK & TEMA


KELOMPOK INorma dan Nilai dalam Komunikasi


  1. Muhammad Dirham Mahmuda
  2. Ahmad Syaifuddin
  3. Hendra Kusuma
  4. Amirul Auzar Ch.
KELOMPOK II – Identitas Agama dalam Komunikasi
  1. Alfi Uswatun Ch.
  2. Moh Muafiqul Khalid
  3. Siti Rahma
  4. Zakiyatul Fadlah
 KELOMPOK III – Worldview dalam Komunikasi Lintas Budaya
  1.  M. Nur Romadloni
  2. Wikan Rias Pamuji
  3. Musanif
  4. Ari Astuti
KELOMPOK IV – Bahasa dan Simbol dalam KLAB
  1. Setiono
  2. Alfin Thoriqul Fikri
  3. Eka Lailatul Khasanah
  4.  Deni Surya Septiyaji
 KELOMPOK V – Agama dan Komunikasi Cyber
  1. Ahmad Samsuddin
  2. Ani Mufidah
  3.  Nurhadi Biantoro
  4. Aba Charis

KELOMPOK VI – KLAB dan Dialog Antar Agama
  1. Miftahurrohman
  2. Johan Saputra
  3. Siska Dian Purwanti
  4. Supri Yanto Munte

RINCIAN TUGAS:


1. Seluruh kelompok bekerja membuat makalah ilmiah dengan mengikuti ketentuan  
    penulisan ilmiah yang baku

2. Sumber referensi yang jelas (buku, jurnal, ensiklopedi, dll.) dengan mengikuti pola  
    pengutipan yang standar ilmiah (buku pedoman penulisan ilmiah FUSPI)

3. Sumber website dapat digunakan dengan menunjukkan alamat web, hari &  
    tanggal diakses, pukul ketika mengakses.

4. Tidak diperkenankan copy—paste dari halaman website dan blog.

5. Buku rujukan sebagaimana tercantum pada SAP dan bisa dikembangkan dengan 
     rujukan dari sumber lainnya.

6. Jumlah halaman tulisan: 7-10 halaman kuarto, spasi 1,5, 
    Times New Roman 12 poin, margin atas 4 cm, kiri 4 cm, kanan 3 cm, bawah 3 cm.

7. Dikumpulkan pada pertemuan pertama setelah Ujian Tengah Semester secara  
    serentak seluruh kelompok.

8. Makalah yang bukan karya sendiri (plagiat) akan didiskualifikasi dan seluruh 
    anggota kelompok dinyatakan GUGUR dalam mata kuliah ini.




Minggu, 07 Agustus 2011

Kemajuan China & Posisi Indonesia


Kemajuan China Abad XXI dan Posisi Indonesia
Ustadi Hamsah

John Naisbitt dalam Megatrends 2000 mengatakan bahwa dalam dasawarsa ke depan akan terjadi pergeseran kekuatan politik dan ekonomi dunia. Pergeseran itu mengarah ke Pacific Rim (Tepi Pasifik). Apa yang diungkapkan oleh John Naisbitt tersebut menjadi kenyataan ketika pada awal millenium kedua negara-negara di kawasan tepi pasifik Asia telah menunjukkan geliat pertumbuhan ekonomi yang luar biasa. Negara-negara seperti Jepang, China, Korea Selatan, dan Singapura, misalnya telah mencapai prestasi ekonomi yang mencengangkan (Warta Ekonomi, 1991). Dari keempat negara tersebut, China-lah yang banyak menjadi “perbincangan” para pengamat politik dan ekonomi dunia dengan tingkat produk domestik bruto (GDP) pada triwulan kedua tahun 2010 mencapai US$ 1,337 triliun melampaui Jepang yang hanya US$ 1,288 triliun (Solopos.com, 16/8/2010). Dengan pertumbuhan ekonomi di atas 10%, China secara leluasa melaju dengan berkompetisi melawan negara-negara maju lainnya, seperti Jepang dan Amerika, bahkan dalam beberapa tahun ke depan China akan menjadi nomor satu di Asia bahkan di dunia (Kompas.com, 11/1/2010).

Dengan melihat pola pergeseran tersebut, kita tentu bertanya mengapa China mampu melakukan itu dalam waktu 30an tahun sejak Reformasi China tahun 1978? Dari perspektif ekonomi-politik, sejak naiknya Hu Jintao menggantikan Jiang Zemin pada tahun 1978, dikeluarkan kebijakan xiaokang, yakni konsep pembangunan yang didasarkan pada pertumbuhan ekonomi. Dengan model ini, China telah mencetak pertumbuhan yang sangat kompetitif. Adapun dari perspektif budaya, perkembangan ekonomi-politik China dibangun di atas struktur budaya yang dilandasi Confucian Ethics. Secara ringkas, etika Konghucu menekankan pada keselarasan dan kemandirian yang difikuskan pada fungsi ke(ke)luarga(an) (Weiming, 1996).

Implikasi dari sistem budaya ini mewujud dalam perilaku sosial dan ekonomi China yang mengacu pada tradisi “rumpun bambu”, di mana seluruh “anggota keluarga” merupakan penopang dan sumber kekuatan sebuah komunitas, baik politik maupun ekonomi. Filosofi rumpun bambu menjadikan rakyat China menjadi satu komunitas besar dalam membangun bersama. Bambu merupakan serumpun tanaman yang bersambung satu sama lain, dan yang besar selalu meninggalkan tunas-tunas yang banyak sebelum dia tua dan mati. Pengejawantahan filosofi rumpun bambu dalam dunia bisnis dan perdagangan menjadi dasar suskes China. Di manapun etnis China berada menjadi sebuah “rumpun” yang besar, dan mereka tetap menjunjung tinggi nilai etis ini, sehingga meskipun secara geopolitik berbeda, etika Konghucu mutual reciprocity (saling menolong dalam kekeluargaan China) menjadi pegangan utama (Janet Landa, 1999). Pandangan filosofis ini tumbuh subur dalam sistem pemerintahan komunis China, sehingga konsep xiaokang mengakar kuat dalam sistem dan struktur budaya China.

Confucianisme merupakan agama yang telah menjadi way of live bagi masyarakat China. Agama ini sarat nilai moralitas dan filosofi yang tinggi seperti mutual reciprocity, less-adversarial (tidak punya musuh), less-individualistic (tidak individualistis), fellow-villagers (kekeluargaan), keselarasan dan kemandirian sehingga menjadi fondasi dasar masyarakat China.

Secara teoritis, agama di abad ke-21 ini telah memainkan peran sentral. Agama menjadi daya dorong yang kuat dalam memajukan sistem berfikir dan perilaku manusia. Kalau merujuk pada teori Sosiologi Agama, Berger, misalnya telah menunjukkan bagaimana agama mempunyai andil yang fundamental dalam membentuk tindakan manusia (Berger, 1994). Kalau dikaitkan dengan persoalan Confucianism dan tradisi maju China, maka apa yang diungkapkan oleh Berger termanifestasi dalam seluruh tradisi China. Dengan demikian, etos kemajuan China, khususnya dalam bidang ekonomi-politik juga banyak diwarnai oleh Confucian Ethics. Maka tidak mengerankan jika etos ini telah menyebar di dalam masyarakat China yang berada di seluruh dunia yang menjadi “komunitas” besar di Tepi Pasifik yang disebut oleh Weiming dengan “Cultural China” (Weiming, 1995).

Meskipun kemajuan China dengan dasar Confucian Ethics tersebut bisa mengantarkan pada jajaran negara yang akan “mengendalikan” sejarah dunia, namun tetap memiliki kerapuhan. Gordon Chang dalam The Coming Collapse of China (2001), menyebutkan bahwa salah satu yang menjadi titik rapuhnya adalah faktor ideologi, di samping persoalan kesenjangan kaya-miskin, perburuhan, dan lain sebagainya. Ideologi komunisme yang dianut oleh China, meskipun bersinergi dengan komunalitas dan kekeluargaan dari Confucian Ethics, menjadikan negeri ini terjebak pada pertimbangan materialistik. Kita memahami bahwa seluruh imperium di dunia runtuh karena terjebak pada pertimbangan materialistik, misalnya Romawi (Gibbon, 1776).

Oleh karena itu, dengan melihat fenomena China tersebut, kita bangsa Indonesia yang juga berada di Tepi Pasifik juga mempunyai peluang untuk menjadi negara dengan kemajuan yang pesat. Terlebih lagi The Economist memasukkan Indonesia dalam kelompok negara CIVETS (Colombia, Indonesia, Vietnam, Egypt, Turkey, South Africa) sebagai negara yang akan mencetak kemajuan yang pesat, dan bukan suatu yang mustahil jika suatu saat Indonesia akan menjadi “pengendali” sejarah dunia.

Senin, 26 April 2010

Wanita Indonesia: Untuk Maju Tidak Harus "Lepas Baju" (Refleksi Hari Kartini 2010)

Erving Goffman, dalam karya Sosiologi-nya , The Presentation of Self in Everyday Life (1959), mengemukakan pemaknaan terhadap diri di era yang mementingkan penampilan (tampang) dan citra (image). Bangunan pemikirannya disebut dengan impression management (cara mempengaruhi dengan membangun kesan), yang mendasari sebuah paradigma bahwa secara sadar ataupun tidak seseorang bertindak sedemikian rupa sehingga dapat mengontrol penilaian orang lain terhadapnya. Dengan kata lain, apapun yang dikerjakan, sadar atau tidak, pada hakikatnya telah memenej keasadaran orang lain untuk “terkesan” kepada dirinya, baik sikap, cara berpakaian, cara berbicara, cara melihat, dan sebagainya.
Perilaku yang impressive itu pada gilirannya menjelma menjadi “citra atau image” yang mengontrol kesadaran, dan akan terartikulasi menjadi karakter “meniru” sikap yang mengesankan tersebut. Kesan-kesan dari sikap yang impressive itulah yang menggiring kesadaran pada karakter beo yang mengiyakan impression tanpa reserve –dalam bahasa Jean Baudrillard disebut silent majority. Karakter inilah yang meluruhkan sendi-sendi identitas dan mengantarkan diri pada meaningless. Itulah dahsyatnya impression management. Bagi orang lain yang “terkesan” akan mengikuti seluruh citra yang dibangun oleh impression manager, tanpa berusaha kriktis sama sekali.
Terkait dengan hal di atas, ketika sejenak kita cermati berbagai tayangan infotainment, sinetron, dan sederetan iklan di media massa, akan ditemukan sesuatu yang memaksa kita untuk mengernyitkan kening. Betapa tidak, suguhan-demi suguhan yang menampilkan berbagai citra tentang sesuatu dikemas dengan memenejemen kesadaran dalam impression (membangun kesan) pada diri seorang wanita. Sosok wanita tampil dalam kehadirannya sebagai “tubuh, tampang, dan pesona”. Lihat saja misalnya, salah satu iklan shampo, dengan jargon “jangan jadi followers, jadilah trendsetter” telah membangun kesan bahwa wanita akan menjadi mengemuka dengan hanya memakai shampoo itu. Identitas apa yang sedang diperjuangkan? Tentu saja warna rambut, tubuh indah, pakaian seksi, dan kulit putih-halus yang melebihi lain-lainnya. Adakah makna lain dari sosok trendsetter selain “tampang”? Hal serupa juga dapat dijumpai dalam berbagai tayangan infotainment seperti KISS, SILET, INSERT, GO SHOW, WAS-WAS, KABAR KABARI, C & R, dan sebagainya. Dalam banyak hal acara itu hanya sebatas membangun impression management dari para selebriti Indonesia yang kering makna, dan parahnya selalu mengedepankan sosok wanita. Agnes Monica potong rambut saja, misalnya, beritanya diurai sedemikian rupa, demikian juga ketika Dewi Hughes dan Trie Utami berganti penampilan. Apakah makna yang dibangun? Jawabnya jelas, “tampang”. Pemilihan Miss Indonesia, tidak luput dari impression managenet tersebut. Apalagi yang diperjuangkan selain “tampang”?
Sekilas berbagai suguhan media tidak berdampak apapun dalam kehidupan wanita Indonesia, semuanya berjalan wajar, bahkan dinilai sebagai kemajuan. Namun ketika kembali pada arahan Goffman di atas, ternyata impression management dari berbagai tampilan wanita Indonesia telah menorehkan “garis” baru bagi wanita Indonesia. Mereka, sadar atau tidak, digiring menjauh dari “diri” mereka. Dikesankan sedemikian rupa bahwa “diri”-nya hanya akan menjadi wanita Indonesia ketika mengikuti perilaku impressive dari icon-icon “kemajuan” itu. Pada saat yang sama mereka juga “dibimbing” untuk menaggalkan dan meninggalkan identitas sebagai wanita Indonesia yang hakiki. Dus, impression management pada hakikatnya telah mengambil peran dalam mengaburkan identitas wanita Indonesia yang santun dalam bahasa, sopan dalam perilaku, berbudi dalam berfikir, dan aji (bernilai) dalam berpakaian. Semuanya dinilai dari “tampang”. Miss Indonesia dan miss-miss lainnya, misalnya, bukan dari isi kepala, isi jiwa, dan isi hati yang dinilai, melainkan bentuk betis, bentuk tubuh, halusnya kulit, indahnya rambut, dan seksinya penampilan.
Dengan impression management itu kemajuan dinilai dari tampang, bukan dari makna dan nilai. Untuk menjadi maju mesti mengikuti everyday life-nya para impressionist (penjual tampang). Padahal yang terpenting adalah bagaimana penampilan “diri” (self) menjadi hakiki dengan menggenggam identitas. Goffman memang tepat mengisahkan everyday life dalam kegusaran menemukan self. Sekali lagi, ketika kembali pada sinyalemen Goffman, menjadi diri sendiri dan memperjuangkan jati diri akan membawa pada kemajuan daripada mem-beo tanpa tahu arah yang dituju, selain tampang yang mengatasnamakan kemajuan.
Jati diri sebagai wanita Indonesia adalah mengikuti “nurani” sebagai wanita mulia dengan mengusung kearifan lokal Indonesia yang telah dibangun oleh para winasis (cerdik-cendekia). Menjadi wanita Indonesia selain berani berkata “tidak” pada citra yang merusak identitas, juga berani mengedepankan jati diri sebagai wanita mulia yang berbudi pekerti yang tinggi, berprestasi tidak sekedar tampang. Kalau punya kemampuan olah raga, junjung prestasi olah raga, demikian pula seni, ketrampilan, dan prestasi-prestasi lain yang lebih mengusung makna, jungjung prestasinya, bukan “tampang”-nya. Indonesia pernah harum oleh Susi Susanti, Christine Hakim, Elya Kadam, calon astronot RI Pratiwi Sudarmono, dan sebaginya. Ternyata mereka bisa sangat menjulang tanpa mengedepankan tampang, mereka menjunjung tinggi identitas Indonesia yang mulia, baik dari segi sikap, perilaku, cara berbicara, cara berpakaian, cara hidup, dan lain sebagainya. Mereka melanglang buana, tetapi tetap tampil sebagai “wanita Indonesia”. Ternyata untuk maju, wanita Indonesia tidak harus melepas baju sebagai identitas.

Jumat, 14 Agustus 2009

Artikel


Poligami dalam Tradisi Jawa:
Membaca Wacana “Dari Dalam” dan “Dari Luar”

Ustadi Hamsah

Dalam wacana kontemporer, poligami diasumsikan sebagai sebuah perilaku sosial yang melanggar prinsip keadilan dalam rumah tangga. Hal tersebut berangkat dari argumentasi bahwa poligami tidak menghargai elemen-elemen fundamental dalam rumah tangga, seperti loyalitas dan kesetiaan, kasih sayang yang utuh, dan tanggung jawab penuh. Sekalipun demikian, ketika wacana tersebut dilihat dari perspektif kesadaran budaya, maka ada hal yang tidak dapat digeneralisir sebagaimana perspektif sosial positivis. Fenomena poligami dalam lapis tradisi tertentu merupakan manifestasi langsung dari kesadaran budayanya yang tidak dapat dilihat dan dinilai dari perspektif budaya lain. Ini didasarkan pada satu pandangan fundamental bahwa setiap pemikiran budaya mempunyai aspek plausibility tertentu yang berbeda dengan pemikiran budaya dengan habitus yang berbeda. Dengan menelusuri bagaimana structure of plausibility fenomena poligami dalam lapis budaya Jawa, maka hal tersebut merupakan sebuah kelaziman secara budaya, dan hal ini tidak bisa dilihat dari konteks yang berbeda.